Lewati ke konten

Risiko dan imbalan

Risiko dan pikiran: bagaimana akun bertahan3 menit baca
Yang Anda pelajari dalam 3 menitDalam pelajaran ini Anda akan melihat bagaimana rasio antara jarak stop dan jarak target menentukan berapa persen transaksi yang harus berhasil agar akun Anda tidak menyusut. Contohnya, dengan risiko Rp1.000.000 per transaksi dan target Rp2.000.000, Anda hanya perlu 40 dari 100 transaksi berhasil untuk berada di titik impas sebelum biaya. Angka ini bukan jaminan hasil, melainkan alat hitung untuk memeriksa apakah rencana Anda masuk akal.
Risiko1Imbalan21 : 2Untung / Rugi
Diagram skematis yang memperlihatkan satu posisi beli XAU/USD dengan garis stop di bawah harga masuk dan garis target di atasnya, serta jarak yang diberi label risiko dan imbalan.

Peran biaya dalam rasio yang benar-benar Anda dapatkan

Rasio antara jarak stop dan jarak target yang Anda hitung di atas kertas berbeda dari rasio yang benar-benar Anda dapatkan setelah transaksi selesai. Selisih ini muncul karena setiap transaksi memiliki biaya yang tidak terlihat saat Anda merencanakan. Biaya tersebut antara lain spread, komisi, dan biaya inap jika posisi Anda bertahan lebih dari satu hari.

Ambil contoh XAU/USD di sekitar 2.410,00. Misalkan jarak stop Anda setara Rp1.000.000 dan jarak target setara Rp2.000.000. Jika spread dan komisi totalnya setara Rp150.000 per transaksi, maka target bersih Anda turun menjadi Rp1.850.000, sedangkan risiko bersih Anda naik menjadi Rp1.150.000. Rasio yang semula 1:2 berubah menjadi sekitar 1:1,6.

Perubahan ini tidak mengubah aritmetika, tetapi mengubah tingkat keberhasilan yang Anda butuhkan. Dengan risiko Rp1.000.000 dan target Rp2.000.000, Anda butuh 40 dari 100 transaksi berhasil untuk impas sebelum biaya. Setelah biaya, jumlah transaksi berhasil yang dibutuhkan bisa lebih dari 40. Angka pastinya bergantung pada besarnya biaya yang dikenakan broker Anda, dan besaran itu berbeda antara satu broker dan broker lain.

Dampak memindahkan stop setelah posisi dibuka

Memindahkan stop menjauh saat harga bergerak melawan adalah kebiasaan yang mengubah risiko Anda secara diam-diam. Awalnya Anda menetapkan risiko Rp500.000 per transaksi. Ketika harga bergerak ke arah yang merugikan, Anda menggeser stop sehingga risiko per transaksi bisa menjadi Rp750.000 atau Rp1.000.000. Perubahan ini tidak tercatat dalam rencana awal Anda.

Akibatnya, perhitungan tingkat keberhasilan yang Anda butuhkan menjadi tidak berlaku. Jika risiko per transaksi naik menjadi Rp1.000.000 sementara target tetap Rp1.500.000, rasio Anda berubah dari 1:3 menjadi 1:1,5. Anda kini membutuhkan lebih banyak transaksi berhasil hanya untuk mencapai titik impas.

Kebiasaan ini juga membuat hasil evaluasi Anda menyesatkan. Anda mungkin mengira strategi Anda masih berkinerja baik karena beberapa transaksi berhasil, padahal ukuran kerugian per transaksi sudah membesar. Catat risiko aktual setiap kali Anda menutup posisi, bukan hanya risiko yang Anda rencanakan. Selisih antara keduanya menunjukkan seberapa sering Anda menggeser stop.

Cara memeriksa rasio sebelum dan sesudah transaksi

Sebelum masuk, tuliskan tiga angka: jarak stop dalam rupiah, jarak target dalam rupiah, dan perkiraan biaya per transaksi. Dari ketiga angka ini, hitung rasio bersih dengan membagi target setelah biaya dengan risiko setelah biaya. Angka ini adalah rasio yang realistis, bukan rasio di atas kertas.

Setelah transaksi ditutup, catat hasil aktualnya. Bandingkan risiko aktual dengan risiko yang Anda rencanakan. Jika risiko aktual lebih besar, cari tahu penyebabnya: apakah stop digeser, apakah biaya lebih tinggi dari perkiraan, atau apakah eksekusi tidak sesuai harga yang diinginkan.

Lakukan pemeriksaan ini untuk setiap transaksi dalam satu periode, misalnya 20 transaksi. Dari catatan tersebut, hitung berapa transaksi berhasil yang benar-benar Anda dapatkan. Bandingkan dengan angka yang dibutuhkan menurut rasio bersih Anda. Jika jumlah keberhasilan aktual lebih rendah, rencana Anda perlu disesuaikan, bukan ditambah risikonya. Ingat bahwa rasio yang Anda dapatkan tidak tetap dan bergantung pada eksekusi serta kondisi pasar.

Pemeriksaan rasio sebelum masuk posisi

Sebelum menekan tombol beli atau jual, tulis dulu tiga angka di kertas: harga masuk, harga stop, dan harga target. Selisih harga masuk dengan stop adalah jarak risiko. Selisih harga masuk dengan target adalah jarak imbalan. Bagi jarak imbalan dengan jarak risiko, lalu catat hasilnya. Angka itu adalah rasio yang Anda rencanakan, bukan rasio yang nanti Anda dapatkan.

Ubah jarak itu menjadi rupiah memakai nilai per poin pada kontrak yang Anda pakai. Misalnya XAU/USD di 2.410,00 dengan stop 5,00 poin dan target 10,00 poin. Jika satu poin bernilai Rp100.000, maka risiko per transaksi Rp500.000 dan imbalan Rp1.000.000. Rasio rencananya 1:2. Periksa apakah angka risiko itu masih muat dalam batas yang Anda tetapkan untuk satu transaksi.

Hitung berapa transaksi berhasil yang dibutuhkan agar tidak menyusut. Untuk rasio 1:2, kebutuhan itu 40 dari 100 sebelum biaya. Jika rasio rencana hanya 1:1, kebutuhannya naik menjadi 51 dari 100 sebelum biaya. Selisih satu transaksi berhasil itu terlihat kecil, tetapi berpengaruh besar ketika jumlah transaksi bertambah. Tulis kebutuhan ini di samping rencana Anda.

Periksa juga jarak stop terhadap kondisi pasar saat itu. Jarak yang terlalu rapat mudah tersentuh oleh gerakan biasa, sehingga rasio rencana tidak pernah tercapai. Jarak yang terlalu lebar membuat risiko per transaksi membengkak. Nilai per poin berbeda antara broker, jadi hitung ulang memakai angka dari kontrak Anda sendiri. Biaya seperti spread dan komisi belum termasuk di sini.

Rasio 1:2 dengan 40 transaksi berhasil dari 100

LangkahJumlahCatatan
Harga masuk XAU/USD2.410,00angka acuan untuk contoh, bukan kutipan pasar
Jarak stop10,00 poinselisih harga dari masuk ke stop
Jarak target20,00 poinselisih harga dari masuk ke target, dua kali jarak stop
Nilai per poin per lotbervariasisatu poin pada satu lot standar XAU/USD berbeda antar broker dan ukuran kontrak
Risiko per transaksiRp1.000.000batas kerugian yang dipilih sebelum masuk
Imbalan per transaksiRp2.000.000dua kali risiko, sesuai rasio 1:2
Transaksi berhasil40 dari 100tingkat keberhasilan yang dipakai dalam contoh
Transaksi gagal60 dari 100sisanya, 100 dikurangi 40
Total imbalanRp80.000.00040 dikali Rp2.000.000
Total risikoRp60.000.00060 dikali Rp1.000.000
Hasil bersih sebelum biayaRp20.000.000Rp80.000.000 dikurangi Rp60.000.000

Broker dapat membulatkan harga, mengenakan spread, komisi, atau biaya inap. Nilai per poin juga dapat berbeda tergantung ukuran kontrak. Semua angka di atas belum memasukkan biaya tersebut.

Melakukannya sekali, langkah demi langkah

Ikuti urutan berikut untuk memeriksa apakah rencana transaksi Anda masuk akal sebelum dan sesudah posisi dibuka.

  1. 01

    Tentukan jarak stop dan target

    Tentukan jarak stop dan target dalam rupiah sebelum masuk. Pastikan keduanya didasarkan pada struktur harga, bukan pada harapan Anda. Tuliskan kedua angka ini di catatan Anda.

  2. 02

    Perkirakan biaya per transaksi

    Perkirakan spread, komisi, dan biaya inap yang mungkin berlaku. Jumlahkan semuanya menjadi satu angka biaya per transaksi. Ingat bahwa besaran biaya berbeda antara broker dan dapat berubah.

  3. 03

    Hitung rasio bersih

    Kurangi target dengan biaya, lalu tambahkan biaya ke risiko. Bagi hasil target bersih dengan risiko bersih. Angka ini adalah rasio yang realistis untuk Anda.

  4. 04

    Hitung tingkat keberhasilan yang dibutuhkan

    Gunakan rumus: risiko dibagi (risiko ditambah target), lalu kalikan 100. Hasilnya adalah persentase transaksi berhasil yang Anda butuhkan untuk impas sebelum biaya. Setelah biaya, persentase ini akan lebih tinggi.

  5. 05

    Catat risiko aktual setelah transaksi

    Setelah posisi ditutup, catat risiko aktual yang Anda tanggung. Bandingkan dengan risiko yang Anda rencanakan. Jika berbeda, catat penyebabnya.

  6. 06

    Evaluasi setelah 20 transaksi

    Hitung jumlah transaksi berhasil dan bandingkan dengan angka yang dibutuhkan. Jika hasil aktual lebih rendah, periksa apakah stop sering digeser atau biaya lebih besar dari perkiraan. Sesuaikan rencana Anda berdasarkan data ini.

Kesalahan yang paling sering dilakukan di sini

Banyak pemula hanya melihat tingkat keberhasilan dan menganggap rasio 1:2 pasti menguntungkan. Padahal, dengan 40 persen transaksi berhasil, hasil bersih sebelum biaya adalah Rp20.000.000 dari 100 transaksi, dan angka itu bisa berubah menjadi rugi setelah spread dan komisi. Kesalahan lainnya adalah memindahkan stop menjauh saat harga bergerak melawan, sehingga risiko per transaksi membengkak tanpa disadari. Sebaiknya tentukan jarak stop dan target sebelum masuk, lalu hitung ulang berapa transaksi berhasil yang Anda butuhkan. Ingat bahwa rasio yang benar-benar Anda dapatkan tidak tetap; ia bergantung pada eksekusi dan kondisi pasar.

Periksa diri Anda

Jika risiko per transaksi Rp500.000 dan target Rp1.500.000, berapa total imbalan dari 30 transaksi berhasil?

Rp45.000.000, dari 30 dikali Rp1.500.000.

Dengan 30 transaksi berhasil dari 100 dan risiko Rp500.000 per transaksi, berapa total risiko?

Rp35.000.000, dari 70 transaksi gagal dikali Rp500.000.

Berapa hasil bersih sebelum biaya dari kedua angka di atas?

Rp10.000.000, dari Rp45.000.000 dikurangi Rp35.000.000.

Pertanyaan yang muncul berikutnya

Mengapa rasio yang saya dapat setelah transaksi berbeda dari yang saya hitung di atas kertas?

Karena setiap transaksi memiliki biaya yang tidak muncul saat Anda merencanakan. Spread, komisi, dan biaya inap mengurangi target bersih Anda dan menambah risiko bersih Anda. Pada contoh di halaman ini, target Rp2.000.000 bisa turun menjadi Rp1.850.000 dan risiko Rp1.000.000 bisa naik menjadi Rp1.150.000. Rasio yang semula 1:2 menjadi sekitar 1:1,6. Besarnya biaya berbeda antara satu broker dan broker lain, jadi angka pastinya tidak bisa disamakan.

Berapa transaksi berhasil yang saya butuhkan setelah biaya diperhitungkan?

Jumlahnya lebih besar daripada sebelum biaya. Dengan risiko Rp1.000.000 dan target Rp2.000.000, Anda butuh 40 dari 100 transaksi berhasil untuk impas sebelum biaya. Setelah biaya, Anda butuh lebih dari 40. Berapa lebihnya bergantung pada spread, komisi, dan biaya inap yang dikenakan broker Anda. Karena itu, hitung ulang kebutuhan Anda memakai angka biaya dari broker Anda sendiri, bukan angka contoh di halaman ini.

Apa akibatnya jika saya memindahkan stop menjauh saat harga bergerak melawan?

Risiko per transaksi Anda naik tanpa Anda sadari. Rencana awal Rp500.000 per transaksi bisa berubah menjadi Rp750.000 atau Rp1.000.000. Jika target tetap Rp1.500.000, rasio Anda berubah dari 1:3 menjadi 1:1,5. Anda pun membutuhkan lebih banyak transaksi berhasil hanya untuk mencapai titik impas. Perhitungan tingkat keberhasilan yang Anda buat sebelumnya menjadi tidak berlaku.

Bagaimana cara memeriksa apakah saya sering menggeser stop?

Catat risiko aktual setiap kali Anda menutup posisi, bukan hanya risiko yang Anda rencanakan. Bandingkan kedua angka itu setelah beberapa transaksi. Selisih antara keduanya menunjukkan seberapa sering Anda menggeser stop. Jika selisihnya besar, artinya risiko Anda membengkak di luar rencana. Catatan ini juga membuat evaluasi hasil Anda lebih jujur, karena kerugian per transaksi yang sebenarnya ikut terlihat.

Apakah tingkat keberhasilan saja cukup untuk menilai sebuah rencana?

Tidak cukup. Tingkat keberhasilan harus dibaca bersama rasio antara jarak stop dan jarak target. Rencana dengan banyak transaksi berhasil tetap bisa menyusut jika kerugian per transaksi jauh lebih besar daripada imbalannya. Sebaliknya, rencana dengan tingkat keberhasilan rendah masih bisa bertahan jika rasio imbalannya memadai. Karena itu, periksa kedua angka itu bersamaan sebelum menilai apakah rencana Anda masuk akal.

Mengapa hasil bersih sebelum biaya bisa berubah menjadi rugi?

Karena biaya mengurangi setiap transaksi, baik yang berhasil maupun yang gagal. Pada contoh di halaman ini, 40 transaksi berhasil dari 100 menghasilkan Rp20.000.000 sebelum biaya. Setelah spread dan komisi diperhitungkan, angka itu bisa berubah menjadi rugi. Semakin sering Anda bertransaksi, semakin besar pula total biaya yang keluar. Karena itu, biaya harus masuk ke dalam perhitungan Anda sejak awal, bukan dianggap sebagai sisa kecil.

Kata-kata yang dipakai di halaman ini

Rasio
Perbandingan antara jarak stop dan jarak target pada satu transaksi. Rasio 1:2 berarti jarak target dua kali jarak stop. Rasio ini dipakai untuk menghitung berapa transaksi berhasil yang Anda butuhkan.
Titik impas
Keadaan ketika total imbalan sama dengan total risiko, sehingga hasil bersihnya nol sebelum biaya. Pada titik ini akun Anda tidak bertambah dan tidak berkurang. Jumlah transaksi berhasil yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas bergantung pada rasio Anda.
Spread
Selisih antara harga beli dan harga jual yang ditetapkan broker. Selisih ini mengurangi hasil setiap transaksi, baik yang berhasil maupun yang gagal. Besarnya berbeda antara satu broker dan broker lain.
Komisi
Biaya yang dikenakan broker untuk setiap transaksi yang Anda buka atau tutup. Komisi menambah risiko bersih Anda dan mengurangi target bersih Anda. Karena itu, rasio yang Anda dapat setelah transaksi bisa lebih kecil daripada yang Anda hitung di atas kertas.
Biaya inap
Biaya yang dikenakan ketika posisi Anda bertahan lebih dari satu hari. Biaya ini muncul pada posisi yang masih terbuka saat pergantian hari. Besarnya bergantung pada broker dan pada instrumen yang Anda perdagangkan.
Risiko aktual
Kerugian yang benar-benar Anda alami saat posisi ditutup, bukan kerugian yang Anda rencanakan sebelum masuk. Selisih antara risiko aktual dan risiko rencana menunjukkan seberapa sering Anda menggeser stop. Catat angka ini setiap kali Anda menutup posisi.

Yang perlu diingat

  • Rasio antara jarak stop dan jarak target menentukan berapa transaksi berhasil yang Anda butuhkan untuk mencapai titik impas.
  • Biaya seperti spread, komisi, dan biaya inap mengubah rasio yang benar-benar Anda dapat, dan besarnya berbeda antara satu broker dan broker lain.
  • Memindahkan stop menjauh saat harga bergerak melawan menaikkan risiko per transaksi tanpa tercatat dalam rencana Anda.
  • Catat risiko aktual setiap kali menutup posisi, lalu bandingkan dengan risiko yang Anda rencanakan sebelum masuk.
Berikutnya dalam Risiko dan pikiran: bagaimana akun bertahanDrawdown dan rentetan kerugian
Perdagangan forex dan CFD memiliki risiko tinggi kehilangan uang. Sebagian besar akun ritel mengalami kerugian. Tidak ada apa pun di sini yang merupakan rekomendasi untuk berdagang atau ramalan hasil apa pun.Saripanduan kursus Anda