Lewati ke konten

Grafik dan kerangka waktu

Membaca pasar: grafik, alat, dan instrumen3 menit baca
Yang Anda pelajari dalam 3 menitDi pelajaran ini Anda akan melihat bagaimana satu pasar yang sama, XAU/USD di sekitar 2,410.00, bisa tampak seperti tiga pasar yang berbeda begitu Anda membuka kerangka waktu M5, H1, dan D1. Anda juga akan menghitung sendiri berapa nilai uang dari satu gerakan harga pada tiap kerangka waktu, dalam rupiah, supaya keputusan memilih kerangka waktu tidak lagi berdasarkan perasaan. Sebelum membuka posisi, biasakan memeriksa daftar singkat berikut: kerangka waktu yang dipakai, ukuran posisi dalam lot, nilai pergerakan harga per lot, dan biaya yang mungkin dikenakan broker.
M514H17D13XAU/USD
Diagram skematis yang menunjukkan tiga panel grafik XAU/USD dengan rentang waktu berbeda, yaitu M5, H1, dan D1, memperlihatkan gerakan harga yang sama namun terlihat berbeda di tiap panel.

Tiga wajah satu pasar pada kerangka waktu berbeda

Grafik yang Anda buka hanyalah cara menyusun harga menurut jarak waktu yang Anda pilih. Pada XAU/USD di sekitar 2,410.00, kerangka waktu M5 menampilkan perubahan tiap lima menit, H1 menampilkan perubahan tiap satu jam, dan D1 menampilkan perubahan tiap satu hari. Ketiganya memakai harga yang sama, tetapi jumlah titik data dan rentang waktunya berbeda. Karena itu, kesimpulan yang Anda ambil dari ketiganya bisa berbeda meski pasar sedang bergerak sekali.

Perhatikan gerakan 3,00 dolar yang sudah dihitung di halaman ini. Pada M5, gerakan itu bisa muncul sebagai satu lilin penuh yang terlihat besar. Pada H1, gerakan yang sama hanya menjadi bagian kecil dari satu lilin. Pada D1, gerakan itu mungkin nyaris tidak terlihat karena lilin harian menampung jauh lebih banyak pergerakan. Satu angka yang sama menghasilkan kesan yang berbeda hanya karena lebar jendela waktunya berubah.

Pilihan kerangka waktu utama menentukan sisa rencana Anda. Jika Anda memakai D1 sebagai acuan, posisi Anda perlu ruang untuk menahan fluktuasi yang terjadi di dalam hari. Jika Anda memakai M5 sebagai acuan, keputusan masuk dan keluar menjadi lebih sering dan biaya broker lebih cepat menumpuk. Tidak ada kerangka waktu yang benar untuk semua orang. Yang penting adalah kerangka waktu yang cocok dengan waktu yang Anda miliki dan ukuran modal Anda.

Hubungan kerangka waktu dengan ukuran posisi

Kerangka waktu tidak berdiri sendiri. Ia menentukan seberapa besar gerakan yang wajar terjadi sebelum rencana Anda dianggap salah. Pada D1, jarak antara harga masuk dan titik henti bisa jauh lebih lebar daripada pada M5. Jika Anda memakai ukuran posisi yang sama untuk keduanya, kerugian dalam rupiah pada D1 akan jauh lebih besar ketika harga bergerak sejauh yang sama.

Contoh angkanya bisa dipakai kembali. Gerakan 3,00 dolar dengan 0,10 lot standar dan kurs Rp15.500 per dolar AS setara Rp4.650.000. Gerakan yang sama dengan 0,01 lot standar setara Rp465.000. Perbedaan sepuluh kali pada ukuran posisi menghasilkan perbedaan sepuluh kali pada nilai rupiah, tanpa mengubah besar gerakan harganya. Karena itu, memilih kerangka waktu lebih dulu lalu menyesuaikan lot adalah urutan yang masuk akal.

Sebaliknya, memilih lot lebih dulu lalu mencari kerangka waktu yang cocok membuat Anda menyesuaikan analisis dengan posisi, bukan menyesuaikan posisi dengan analisis. Pada kerangka waktu kecil, harga bergerak lebih sering dan spread dibayar lebih sering. Pada kerangka waktu besar, jumlah keputusan lebih sedikit tetapi tiap keputusan membawa risiko rupiah yang lebih besar. Keduanya bisa dikelola, asalkan Anda tahu angka rupiahnya sebelum membuka posisi.

Cara memakai dua kerangka waktu tanpa saling bertentangan

Satu kebiasaan yang membantu adalah memakai dua kerangka waktu dengan tugas yang jelas. Kerangka waktu besar dipakai untuk menentukan arah umum yang Anda anggap berlaku. Kerangka waktu kecil dipakai hanya untuk mencari titik masuk yang lebih rapi. Dengan pembagian tugas seperti ini, Anda tidak perlu memutuskan arah dua kali dari dua grafik yang berbeda.

Masalah muncul ketika kedua grafik diberi tugas yang sama. Jika Anda mencari arah pada M5 dan pada D1 sekaligus, keduanya sering memberi jawaban berbeda dan Anda memilih yang sesuai keinginan. Cara menghindarinya sederhana: tuliskan di catatan kerangka waktu mana yang menentukan arah dan mana yang hanya menentukan waktu masuk. Aturan ini berlaku untuk semua instrumen, bukan hanya XAU/USD.

Perlu diingat bahwa broker dapat membulatkan harga, mengenakan spread, komisi, atau biaya swap yang berbeda-beda. Nilai satu pip pada satu lot standar XAU/USD juga bervariasi antar broker dan ukuran kontrak. Karena itu, angka rupiah yang Anda hitung adalah perkiraan berdasarkan spesifikasi yang Anda pakai sendiri. Selalu periksa spesifikasi kontrak yang berlaku di broker Anda sebelum mengandalkan angka itu.

Satu gerakan 3,00 dolar pada tiga kerangka waktu

LangkahJumlahCatatan
M5, 1 lot standarRp4.650.000Gerakan 3,00 dolar pada XAU/USD dihitung dari 2,410.00 ke 2,413.00, dengan asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS dan 1 lot standar.
H1, 0,10 lotRp465.000Gerakan 3,00 dolar yang sama, tetapi ukuran posisi 0,10 lot, sehingga nilainya sepersepuluh dari baris pertama.
D1, 0,01 lotRp46.500Gerakan 3,00 dolar yang sama pada 0,01 lot, yaitu seperseratus dari baris pertama, menunjukkan pengaruh ukuran posisi terhadap nilai rupiah.

Broker dapat membulatkan harga, mengenakan spread, komisi, atau biaya swap yang berbeda-beda, sehingga angka rupiah di atas bisa berubah. Nilai satu pip pada satu lot standar XAU/USD juga bervariasi antar broker dan ukuran kontrak, jadi selalu periksa spesifikasi kontrak yang berlaku di broker Anda.

Melakukannya sekali, langkah demi langkah

Anda akan memeriksa satu pasar pada tiga kerangka waktu secara berurutan, lalu mencatat angka rupiahnya sebelum memutuskan. Urutannya tetap sama setiap kali agar hasilnya bisa dibandingkan.

  1. 01

    Tentukan kerangka waktu utama

    Pilih satu kerangka waktu sebagai acuan arah, misalnya D1 atau H1, sesuai waktu yang Anda miliki untuk memantau posisi. Tuliskan pilihan itu di catatan Anda beserta alasannya. Kerangka waktu ini yang nanti menentukan seberapa lebar ruang yang Anda berikan pada posisi.

  2. 02

    Buka kerangka waktu kecil sebagai pembanding

    Setelah kerangka waktu utama ditetapkan, buka satu kerangka waktu yang lebih kecil, misalnya M5 atau H1. Gunakan grafik ini hanya untuk melihat titik masuk, bukan untuk mengubah arah yang sudah Anda tentukan. Jika arah di grafik kecil berbeda, tetap pegang keputusan dari kerangka waktu utama.

  3. 03

    Ukur besar gerakan yang Anda rencanakan

    Catat selisih harga antara titik masuk dan titik henti dalam dolar, seperti contoh 3,00 dolar pada XAU/USD di sekitar 2,410.00. Selisih ini yang akan dipakai untuk menghitung nilai rupiah. Tanpa angka ini, perhitungan berikutnya tidak bisa dilakukan.

  4. 04

    Hitung nilai rupiah untuk ukuran posisi Anda

    Kalikan selisih dolar dengan jumlah lot standar, lalu kalikan dengan kurs rupiah yang Anda pakai. Sebagai contoh, 3,00 dolar dikali 0,10 lot dikali Rp15.500 menghasilkan Rp4.650.000. Bandingkan angka itu dengan modal Anda sebelum melanjutkan.

  5. 05

    Ulangi dengan ukuran posisi lebih kecil

    Hitung kembali dengan lot yang lebih kecil untuk melihat selisihnya. Dengan 0,01 lot standar pada gerakan 3,00 dolar dan kurs Rp15.500, nilainya Rp465.000. Angka ini membantu Anda melihat berapa besar risiko yang benar-benar sanggup Anda tanggung.

  6. 06

    Periksa biaya broker sebelum menekan tombol

    Tambahkan perkiraan spread, komisi, dan biaya swap yang berlaku di broker Anda pada angka rupiah tadi. Ingat bahwa biaya ini berbeda antar broker dan antar ukuran kontrak. Jika biaya membuat rencana Anda tidak lagi masuk akal, ubah ukuran posisi atau kerangka waktunya, bukan angka biayanya.

Kesalahan yang paling sering dilakukan di sini

Kesalahan yang sering terjadi adalah membuka grafik M5, melihat gerakan kecil, lalu menyimpulkan pasar sedang sepi, padahal di D1 gerakan itu bagian dari tren besar. Sebaliknya, ada juga yang melihat D1, merasa yakin arah harga, tetapi memakai ukuran posisi terlalu besar untuk modalnya. Akibatnya, fluktuasi kecil di M5 sudah cukup membuat posisi tertekan. Mulailah dengan menentukan kerangka waktu utama, lalu gunakan kerangka waktu lebih kecil hanya untuk melihat titik masuk, dan selalu hitung nilai rupiah dari gerakan harga sebelum menekan tombol beli atau jual.

Periksa diri Anda

Jika XAU/USD bergerak dari 2,410.00 ke 2,413.00, yaitu 3,00 dolar, dan Anda memakai 0,10 lot standar dengan kurs Rp15.500 per dolar AS, berapa nilai gerakan itu dalam rupiah?

Nilainya adalah 3,00 dolar dikali 0,10 lot dikali Rp15.500, yaitu Rp4.650.000. Angka ini belum termasuk spread, komisi, atau biaya lain yang mungkin dikenakan broker.

Jika Anda memakai 0,01 lot standar pada gerakan 3,00 dolar yang sama dan kurs Rp15.500 per dolar AS, berapa rupiah yang setara?

Nilainya adalah 3,00 dolar dikali 0,01 lot dikali Rp15.500, yaitu Rp465.000. Angka ini juga belum memperhitungkan biaya tambahan dari broker.

Pertanyaan yang muncul berikutnya

Apakah kerangka waktu yang lebih kecil selalu memberi peluang lebih banyak

Kerangka waktu kecil memang menampilkan lebih banyak ayunan harga dalam sehari. Setiap ayunan itu belum tentu menjadi peluang yang layak diambil setelah biaya dihitung. Spread dan komisi dibayar setiap kali Anda masuk dan keluar, jadi jumlah transaksi yang lebih banyak berarti biaya menumpuk lebih cepat. Yang menentukan bukan jumlah ayunan, melainkan apakah rencana Anda masih untung setelah biaya itu dikurangi.

Bagaimana cara memilih kerangka waktu utama bila waktu luang terbatas

Mulailah dari berapa lama Anda bisa mengawasi posisi tanpa terganggu pekerjaan lain. Jika hanya bisa memeriksa grafik sekali sehari, kerangka waktu harian lebih masuk akal karena satu lilinnya terbentuk dalam satu hari penuh. Jika bisa memantau tiap jam, kerangka waktu H1 masih dapat diikuti. Kerangka waktu yang tidak cocok dengan jadwal Anda biasanya berakhir dengan keputusan yang terburu-buru.

Apakah titik henti harus selalu dihitung dari kerangka waktu utama

Titik henti sebaiknya mengikuti kerangka waktu yang Anda pakai untuk mengambil keputusan. Jika acuannya D1, jarak henti yang terlalu rapat akan tersentuh oleh fluktuasi biasa di dalam hari. Jika acuannya M5, jarak henti yang terlalu lebar membuat kerugian per posisi jauh lebih besar dari yang Anda perkirakan. Setelah jarak itu ditetapkan, ukuran lot yang disesuaikan, bukan sebaliknya.

Mengapa nilai rupiah dari gerakan yang sama bisa berbeda antar broker

Setiap broker menetapkan ukuran kontrak, pembulatan harga, dan biaya yang tidak sama. Ada yang mengenakan spread lebih lebar, ada yang menambah komisi per lot, dan ada yang memakai biaya swap untuk posisi yang menginap. Karena itu hasil perkalian dolar, lot, dan kurs hanyalah nilai kotor sebelum biaya. Periksa spesifikasi kontrak yang berlaku di broker Anda sebelum memakai angkanya.

Apakah boleh memakai tiga kerangka waktu sekaligus

Boleh, asalkan perannya jelas dan tidak saling bertentangan. Biasanya satu kerangka waktu besar dipakai untuk menentukan arah, dan satu kerangka waktu kecil dipakai untuk melihat titik masuk. Menambah kerangka waktu ketiga sering membuat kesimpulan saling bertabrakan karena tiap jendela waktu menampilkan kesan yang berbeda. Dua kerangka waktu sudah cukup bagi sebagian besar pemula.

Apa yang terjadi bila saya mengganti kerangka waktu setelah posisi dibuka

Mengganti kerangka waktu di tengah posisi berjalan membuat penilaian Anda berubah tanpa dasar yang baru. Posisi yang tadinya sesuai rencana bisa terlihat salah hanya karena jendela waktunya diperkecil. Sebaiknya kerangka waktu dan titik henti ditetapkan sebelum masuk, lalu dipertahankan sampai rencananya selesai. Jika ingin meninjau ulang, tunggu posisi ditutup lebih dulu.

Kata-kata yang dipakai di halaman ini

kerangka waktu
Jarak waktu yang dipakai grafik untuk menyusun harga, misalnya lima menit, satu jam, atau satu hari. Satu pasar yang sama akan tampak berbeda tergantung kerangka waktu yang dibuka. Kerangka waktu utama menentukan seberapa jauh fluktuasi yang wajar Anda tahan.
lot standar
Satuan ukuran posisi yang dipakai untuk menghitung nilai pergerakan harga. Pada XAU/USD, 0,10 lot standar bernilai sepersepuluh dari satu lot standar. Ukuran kontrak per lot dapat berbeda antar broker, jadi angkanya perlu diperiksa.
spread
Selisih antara harga beli dan harga jual yang berlaku saat itu. Biaya ini sudah melekat pada harga yang Anda terima, sehingga tidak selalu terlihat sebagai potongan terpisah. Spread dapat melebar ketika pasar sedang ramai atau sepi.
swap
Biaya yang dikenakan bila posisi Anda masih terbuka saat melewati batas harian tertentu. Besarnya berbeda-beda antar broker dan bisa menambah atau mengurangi nilai posisi. Posisi yang ditahan berhari-hari biasanya terkena biaya ini lebih dari sekali.
titik henti
Harga yang Anda tetapkan sebagai batas kerugian bila pasar bergerak berlawanan dengan posisi Anda. Jaraknya sebaiknya disesuaikan dengan kerangka waktu yang dipakai. Setelah jarak itu ditetapkan, ukuran lot yang menyesuaikan.
Bappebti
Lembaga di Indonesia yang mengawasi perdagangan berjangka, termasuk kontrak yang diperdagangkan secara daring. Keberadaan izin ini tidak menghapus risiko kerugian dari pergerakan harga. Periksa status izin pihak yang Anda gunakan sebelum menempatkan dana.

Yang perlu diingat

  • Satu pasar yang sama tampak berbeda pada setiap kerangka waktu karena jumlah titik data dan rentang waktunya berubah.
  • Kerangka waktu utama menentukan seberapa lebar jarak titik henti dan berapa lama posisi perlu ditahan.
  • Nilai rupiah dari satu gerakan harga dihitung dari besar gerakan, ukuran lot, dan kurs, lalu biaya broker mengurangi hasilnya.
  • Pilih kerangka waktu lebih dulu, sesuaikan lot setelahnya, dan periksa spesifikasi kontrak di broker Anda karena angkanya dapat berbeda.
Berikutnya dalam Membaca pasar: grafik, alat, dan instrumenCandle: apa yang dikatakan satu candle
Perdagangan forex dan CFD memiliki risiko tinggi kehilangan uang. Sebagian besar akun ritel mengalami kerugian. Tidak ada apa pun di sini yang merupakan rekomendasi untuk berdagang atau ramalan hasil apa pun.Saripanduan kursus Anda